Review Midsommar: Film Horror Gak Pake Jumpscare

Assalamualaikum Wr. Wb.

Setelah sekian lama akhirnya aku nulis blog lagi. Btw kemarin-kemarin aku lagi sibuk ngerjain tugas akhir dan finally aku udah sidang tugas akhir dan alhamdulillah dinyatakan lulus hehehe.

So, kali ini aku mau nge-review film yang masih baru banget dirilis dan masih anget-angetnya yang berjudul Midsommar. Yang penasaran, silahkan disimak yaa.

poster film Midsommar
(sumber: Google)

Film Midsommar dirilis pada tanggal 3 Juli 2019 di Amerika Serikat oleh A24 dan 10 Juli 2019 oleh Nordisk Film di Swedia. Sedangkan jadwal perilisan film ini di Indonesia pada awalnya direncanakan bulan Agustus namun sempat dikabarkan tidak akan ditayangkan dikarenakan sensor, namun pada akhirnya diundur perilisannya menjadi tanggal 7 September 2019. Film ini dibintangi oleh aktor dan aktris papan atas dari beberapa negara seperti Florence Pugh, Jack Reynor, Will Poulter, William Jackson Harper, Vilhelm Blomgren, dan lain-lain. Film ini aslinya berdurasi 171 menit. Tetapi karena banyak scene yang kelewat sadis, Ari Aster, sang sutradara meng-cut nya menjadi 147 menit. Dan sesampainya di Indonesia film ini “dipangkas” lagi menjadi 138 menit, sehingga berkurang 9 menit dari durasi sebelumnya.

Langsung aja ke sinopsisnya yaa..

Midsommar bercerita tentang seorang gadis muda bernama Dani (Florence Pugh) yang memiliki masalah kejiwaan berupa mudah depresi dan trauma, ditambah ia sedang dilanda kesedihan lantaran harus kehilangan keluarga yang dicintainya dan hubungannya dengan sang pacar yaitu Christian (Jack Reynor) sedang rusak. Untuk memperbaiki keretakan hubungan tersebut sembari membuat Dani melupakan kesedihannya, keduanya memutuskan pergi berlibur ke desa Hårga di Hälsingland, Swedia bersama tiga sahabatnya yaitu Mark (Will Poulter), Josh (William Jackson Harper), dan Pelle (Vilhelm Blomgren). Keberangkatan mereka ke Swedia sebenarnya adalah undangan dari Pelle yang merupakan penduduk asli desa Hårga. Pelle mengajak mereka berempat ke kampung halamannya itu untuk ikut serta dalam festival pertengahan musim panas selama 9 hari yang hanya dilaksanakan sekali dalam 90 tahun. Oiya, Midsommar sendiri dalam bahasa Swedia artinya midsummer atau pertengahan musim panas.

Dani bersama salah satu warga desa Hårga (sumber: Google.com)

Tiba di desa Hårga, mereka langsung disambut ramah oleh warga setempat yang mengenakan pakaian serba putih dengan beragam corak yang indah di tengah hamparan padang rumput yang sangat luas. Sayangnya, baik Dani, Christian, Mark, dan Josh tidak menyadari bahwa Pelle dan penduduk desa Hårga ternyata adalah sekelompok sekte yang tengah melakukan ritual yang sadis dan brutal. Di balik penduduk yang ramah dan desa dengan pemandangan yang asri, desa Hårga memiliki misteri yang cukup membuat bulu kuduk merinding.

Midsommar memiliki genre folk horror film yang berarti film ini memadukan antara tradisi suatu masyarakat dengan berbagai kengerian dan keseraman. Film ini dikemas sangat apik oleh Ari Aster yang sebelumnya ia juga menyutradarai  film horor berjudul Hereditary dan film tersebut dianggap sebagai film horor terbaik tahun 2018.

Menurutku film ini memang patut diacungi jempol lho. Dimulai dari pengambilan shoot yang terbilang unik, visual yang dapat memanjakan mata kayak pemandangan di desa Hårga yang bener-bener masih alami (jangan harap disitu ada sinyal, listrik aja gak ada), jalan cerita yang pas, dan peran yang dibawakan oleh aktor dan aktrisnya juga keren serta sangat menjiwai terutama Florence Pugh (yang memerankan karakter Dani) ia dapat memerankan tokoh itu dengan baik dan dapat membuat kita sebagai penonton merasakan apa yang ia rasakan meskipun hanya lewat ekspresinya saja. Menurut review lain yang aku baca, banyak dari mereka yang setelah menonton film ini akan merasa “stres” mengingat adegan-adegan yang ditayangkan dalam film ini terbilang sangat brutal. Aku sendiri setelah nonton film Midsommar ngerasa agak “stres” juga, ditambah lagi stres gara-gara revisian abis sidang tugas akhir jadi double deh stresnya wkwkwk. Yang udah disensor banyak aja bikin stres gimana nonton yang full nya tanpa sensor ya hmm.. pantes ada yang bilang juga genre film ini merupakan pshycological thriller.

Salah satu scene dalam film Midosmmar (sumber: Google.com)

Terus yang bikin unik dari film ini juga, biasanya film horror identik dengan jumpscare, musik yang menegangkan, dan waktunya di malam hari alias gelap-gelapan ya nah di film Midsommar nggak ada sama sekali jumpscare, nggak ada tuh yang namanya hantu, musiknya justru terdengar lembut dan agak “tradisional”, sekaligus semua adegan ngerinya itu justru di siang bolong alias lagi cerah cerianya. Tapi ini film gak kalah seremnya juga lho dengan film-film horor yang lainnya.

Kekurangannya sih ya di sensornya ini nih gak santuy banget. Emang bener sih sensor film itu merupakan musuh utama bagi pecinta film, soalnya bisa jadi yang di sensor itu justru merupakan adegan utama dan pastinya kalo dihilangkan jalan ceritanya jadi loncat-loncat dan nggak jelas sehingga kita jadi gak nyaman pas nonton film itu. Sensor beberapa detik aja udah risih ya, gimana di film Midsommar ini coba sampe 30 menit lebih !!. Meskipun begitu, buat kamu yang suka nonton film terutama film folk horror atau pshycological thriller, film Midsommar ini wajib masuk ke dalam list kamu. Karena film ini bakal mengajakmu merasakan aura ketegangan yang unik dan berbeda dari film horor yang lainnya.

Sekian review film Midsommar dari aku. Jika ada salah kata mohon dimaafkan yaa.
Thank you for read and see you on the next post. Ciao~

Wassalamualaikum Wr. Wb.

Rated: 7.8/10

Komentar

Postingan Populer